Hari itu seharusnya sederhana. Hanya belanja mingguan di supermarket. Tapi bagi keluarga dengan anak ABK, tidak ada yang "hanya" dan "sederhana."
Ibra melihat rak lampu yang berkedip-kedip. Matanya tertarik — seperti biasa, stimulasi visual menariknya dengan kuat. Ketika Ami menariknya untuk lanjut belanja, tantrum dimulai.
Dia berteriak. Menangis. Melempar diri ke lantai. Di lorong supermarket yang ramai.
Ami bisa merasakan tatapan orang-orang. Ada yang kasihan. Ada yang menilai. Ada yang berbisik, "Anaknya nggak diurus."
Tapi Ami sudah belajar. Ami duduk di lantai, di samping Ibra. Memeluknya erat. Memberikan deep pressure yang biasa diajarkan terapis. Dan berbisik, "Ami di sini. Ami tidak akan pergi."
10 menit kemudian, Ibra tenang. Kami melanjutkan belanja.
Seorang ibu tua menghampiri Ami di kasir. "Kamu ibu yang kuat," katanya. Ami menangis lagi, tapi kali ini karena merasa dilihat.
"Ya Allah, kuatkanlah hatiku." Itu doa Ami setiap hari.