Selama dua tahun, Ami menunggu satu kata. Hanya satu. "Ami."
Ami bicara dengan Ibra setiap hari. Membacakan buku. Bernyanyi. Menceritakan apa saja — tentang kucing tetangga, tentang awan, tentang betapa Ami menyayanginya. Tanpa respons verbal yang jelas.
Terapis wicara bilang, "Sabar, Bu. Setiap anak punya waktunya sendiri." Ami mengangguk, tapi di dalam hati bertanya, kapan?
Hari itu, Selasa biasa. Ami sedang memasak di dapur. Ibra bermain di ruang tamu. Tiba-tiba:
"Mi... mi..."
Ami diam. Jantungnya berhenti.
"Ami..."
Kali ini jelas. Jelas sekali.
Ami berlari ke ruang tamu. Ibra duduk di lantai, menatap ke arah dapur. Mencari Ami.
Ami berlutut di depannya, memeluknya, menangis.
"Ya, sayang. Ami di sini. Ami selalu di sini."
Itu adalah hari yang Ami tandai dengan tinta emas di kalender hati. Hari ketika doa terjawab.
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat." (QS. Al-Baqarah: 186)